Monday, July 23, 2012

Pulau Menjangan: On the sea again

Wajah Wida terlihat pucat, sedari tadi dia mengeluhkan bagian kanan perutnya yang mengalami keram. Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat sejenak, namun tetap saja keram perut Wida tak kunjung hilang.

Waktu itu kira-kira jam 2 dini hari. Kami hendak menggapai puncak Gunung Batukaru dari wilayah Pupuan untuk melihat sunrise. Suasana cukup mencekam waktu itu, kepanikan nampak jelas pada nada bicara dan raut wajah teman saya Brangga. Dia belum pernah naik gunung sebelumnya, nampaknya berbagai mitos yang didengarnya tentang keangkeran gunung-gunung di Bali baru saja mewujud nyata subuh itu. Beberapa kali dia
menyarankan untuk kembali ke bawah namun kami hiraukan dan memilih untuk tetap melangkah kedepan.

Sayapun dulu pernah mengalaminya. Sunyi, gelap dan dingin benar-benar merupakan perpaduan sempurna untuk menimbulkan suasana mencekam. Logika kerap terjungkir balik kalau sudah begini. Beruntung ketika jaman S1 dulu, saya bertemu mereka-mereka yang mengajarkan tentang betapa menyenangkannya sebuah pendakian malam. Berbagai mitos tentang keangkeran sebuah gunung perlahan memudar berganti gairah membara untuk menggapai puncak :)

Ditengah perjalanan Wida berujar "kayanya ini aku mau haid deh". Wah,gawat juga kalau haid di gunung, karena tidak ingin rombongan terpecah, maka kami memutuskan untuk turun bersama-sama.

Langit masih gelap, mungkin baru sekitar satu jam semenjak awal pendakian tadi. Hendak pulang, nanggung, kami mulai membincangkan tujuan alternatif. Tiba-tiba Yogi nyeletuk "bagaimana kalau kita ke pulau menjangan saja?", ide menarik, kami mulai mempertimbangkan jalur mana yang hendak dilalui untuk sampai di sana. Ada dua alternatif, pertama lewat jalur utara melalui seririt kemudian mengikuti jalan raya sepanjang garis pantai Bali Utara atau lewat jalur selatan melalui pekutatan dilanjut menyusuri jalan raya Denpasar-Gilimanuk. Yogi berkata dia pernah ke pelabuhan penyeberangan Pulau Menjangan melalui Seririt, daripada nyasar-nyasar, maka kami putuskan akan melalui jalur itu saja.

Menjangan get lost

Gelap seringkali membuat kita mengalami disorientasi arah. Malam itu Yogi mengalaminya. Setelah cukup jauh, dia baru ngeh bahwa jalur yang kami lalui bukan menuju Seririt, tapi menuju jalur selatan. Sudah cukup jauh jika ingin berbalik arah, maka akhirnya kami putuskan untuk menempuh jalur selatan saja.

Jalanan masih sangat sepi waktu itu, hanya sesekali kami berpapasan dengan kendaraan lain. Jalur dari Pupuan menuju ke jalan Denpasar-Gilimanuk merupakan jalur pedesaan. Dibeberapa bagian, jalan menjadi semakin kecil. Saya sempat berpikir kalau jalur yang kami lalui adalah salah, tapi karena tidak ada tempat untuk bertanya, mau ga mau kendaraan harus terus dilaju. Sebentar lagi juga pagi, kalau salah jalan nanti bisa minta petunjuk sama orang pikir saya.

Hampir 1,5 jam harap-harap cemas, akhirnya kami melihat jalan besar juga. Senang rasanya melihat lampu penerangan jalan yang benderang, juga truk-truk pengangkut barang yang berseliweran. Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk!

Tidak satupun dari kami yang memiliki bayangan tentang apa yang akan dijumpai di pulau menjangan. Pada kunjungan sebelumnya, Yogi tidak menyempatkan diri untuk menyebrang ke pulau menjangan, hanya sampai di pelabuhan penyeberangannya saja. Dia memang tipe 
seorang eksplorer sejati, seringkali dia melakukan survey seorang diri dulu sebelum melakukan perjalanan ramai-ramai bersama rombongan. Penjelasan-penjelasan yang dilontarkan mengenai detail perjalanan yang akan kami lakukan selalu mampu membuat saya berdecak kagum. Berhubung perjalanan kali ini merupakan sebuah kecelakaan, maka tidak banyak hal yang bisa dia jelaskan tentang pulau yang satu ini :)

Sinar mentari pagi menjadi penyambut kisah kami disana. Ada juga ratusan perahu yang sedang parkir di dermaga. Air laut yang tenang berpadu dengan terpaan sinar keemasan mentari pagi menghasilkan refleksi yang menawan. Ditambah lagi dengan latar belakang langit biru nan bersih, tidak mungkin rasanya kami melewatkan momen untuk bernarsis ria ini :)

Sebenarnya kami hendak meminjam snorkel agar bisa melihat keindahan bawah laut di sekitar pulau, sayang waktu itu tempat peminjaman snorkel belum buka. Kami malas menunggu dan memutuskan untuk menyebrang saja.

Bapak tukang perahu memberikan penjelasan tentang tempat-tempat sembahyang yang ada di sekitar pulau. Ada 7 tempat sembahyang yang bisa dikunjungi di areal bawah, dan 1 di posisi ujung atas pulau. Kami mengikuti persembahyangan di semua tempat yang ada, tapi tidak dengan Yogi, dia tidak membawa kain kamen, maka sambil menunggu dia memilih untuk jalan-jalan disekitaran tempat sembahyang sambil mengabadikan gambar.

Tempat sembahyang yang berada di ujung paling utara pulau merupakan tempat yang begitu indah. Berada diujung pulau, terdapat sebuah patung Ganesha yang berukuran sangat besar disana. Kami membuka perbekalan dibawah sebuah pohon rindang yang berada di sebelah barat patung. Rasanya makanan apa saja jika dinikmati ditempat seindah itu pasti akan menjadi sangat nikmat :). 

Ditempat seperti inilah rasa malas seharusnya menjadi tuan, bukan ketika hari-hari menjelang ujian yang seharusnya menjadi milik 'semangat membara' :). 
Ketika orang-orang mulai melanjutkan perjalanan ke pura yang berada di bagian paling atas pulau, kami malah memilih untuk melepaskan kain yang kami kenakan dan bersantai dulu disana. Sambil melempar senyum mereka lewat disebelah kami, senyum ramah yang bisa juga merupakan bentuk rasa geli mereka melihat kostum yang kami kenakan. Kain melilit tubuh bagian bawah dan keril tinggi di punggung. Kalau saja mereka tau kisah perjalanan kami hingga sampai di pulau itu, mungkin mereka akan tersenyum lebih lebar lagi.


Iya, kami sedang tersesat waktu itu. Tersesat ditempat begitu indah yang membuat kami malas untuk beranjak. Beberapa jam disana tentu masih sangat kurang. Anggap saja ini sebagai survey awal untuk kunjungan berikutnya yang mesti dipersiapkan dengan lebih matang lagi. Snorkel, tenda, beer, kayu bakar dan ikan harus masuk dalam daftar bawaan pada kunjungan berikutnya :)

foto-foto perjalanan bisa dilihat di album ini lovelydayofmylife.multiply.com/photos/album/22

ps : menjangan get lost merupakan judul folder yang dibuat yogi untuk
      menyimpan foto-foto perjalanan ini

Wednesday, June 6, 2012

Gunung Arjuno




Lebaran selalu jadi momen tepat untuk berlibur bagi mereka para pekerja kantoran. Izin cuti minimal seminggu sudah pasti akan ada di tangan pada momen ini. Itulah mengapa saya dan teman-teman seringkali melakukan perjalanan panjang ketika momen lebaran.

Sebenarnya ini cerita ketika lebaran tahun 2011 yang lalu. Hampir setahun sudah. Kesibukan mencari bentuk diri membuat saya mengesampingkan hal-hal yang sebetulnya sangat saya nikmati, bercerita di sini salah satunya. Beruntung saya menemukan situs ini. Membaca artikel-artikel yang ada disana selalu mampu memberi sedikit kehangatan ketika saya sedang berada di "ruang freezer" yang dipenuhi mahasiswa yang anteng memelototi layar monitor sambil sesekali membuka-buka halaman tesis yang ada disebelahnya.

Perjalanan ini dimulai dari bekasi. Waktu itu saya sedang menghabiskan waktu libur dikontrakan seorang teman, dimana saya sempat belajar sambil bekerja tahun sebelumnya.

Saya berangkat pada H-4 lebaran. Hendak menumpang kereta namun belum memiliki tiket. Usaha saya untuk mendapatkan tiket 2 hari sebelum hari keberangkatan tidak membuahkan hasil. Tiket kereta ekonomi sudah habis terjual jauh hari sebelumnya. Rumor tentang adanya kereta tambahan juga tidak terbukti. Beruntung saya bertemu seorang bapak yang memberikan tips jitu, yaitu membeli tiket untuk tanggal berapa saja, namun tetap berangkat pada hari itu. Tips itu tidak berjalan mulus, perlu sedikit kucing-kucingan dengan petugas dan skill memelas tingkat cupetong sebelum saya berhasil berangkat ke jogja. :)

Puncak Arjuna : Riang bukan kepalang

Saya bersama dua orang teman dalam perjalanan ini, Ketut dan Yogi. Kami bertemu di Surabaya sebelum bersama-sama melanjutkan perjalanan ke daerah tretes, pos awal pendakian.

Perjalanan dari pos pendakian tretes sampai pondok welirang merupakan perjalanan yang cukup panjang. Kami berangkat malam, mungkin sekitar jam 8. Masing-masing dari kami baru saja melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan untuk mencapai surabaya. Ketut berangkat dari Jakarta, Yogi dari Bali dan saya dari bekasi, oleh karena itu malam pertama kami putuskan untuk menginap di pos kopkopan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pos pendakian tretes.

Pagi-pagi kami melanjutkan perjalanan menuju pondok welirang. Jalur yang kami lewati merupakan jalur para penambang belerang yang berbatu dan memutar. Waktu itu hari lebaran, tidak ada kegiatan menambang yang juga berarti tidak ada jeep yang seharusnya bisa kami tumpangi sampai di pondok welirang :)

Siang hari kami sampai di pondok welirang, tidak berlama-lama disana, kami melanjutkan perjalanan menuju lembah kidang. Sayang beberapa hari sebelumnya baru saja terjadi kebakaran di lembah ini, bekal imaji yang kami bawa tentang padang savana berhektar-hektar sejauh mata memandang berbalas padang abu hitam pekat sejauh mata memandang. Tidak apa-apa kami masih memiliki bekal imaji tentang keindahan puncak arjuna di kepala.

Dari lembah kidang, jalur akan mulai menanjak karena merupakan punggungan terakhir menuju puncak. Sore menjelang, kami malas untuk jalan malam, beruntung ada dataran sempit untuk mendirikan tenda didekat jalur, kamipun bermalam disana.

Dari tempat camp kedua, masih perlu sekitar 2 jam untuk mencapai puncak. Beruntung cuaca cerah, rasa lelah jadi sedikit terobati oleh pemandangan alam yang ada. Dibagian selatan kami disuguhi lansekap kokohnya gunung penanggungan, dibagian timur terdapat perbukitan gunung kembar I dan gunung kembar II sebelum puncak putih welirang yang terlihat sedikit mengepulkan asap.

Pelepas lelah paling utama tentu saja pemandangan dari puncak arjuna. Puncak berbatu dengan pemandangan awan biru disegala sisinya. Siluet gunung semeru juga tampak jelas dari sini. Belum pernah saya merasa segirang itu ketika mencapai puncak sebuah gunung. Perpaduan cuaca cerah, teman perjalanan yang menyenangkan, juga keterkesanan akan bentang alam yang baru pertama kali saya jumpai membuncahkan rasa riang yang sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata :)

Rasa riang bertambah lengkap ketika perjalanan kami ditutup dengan mandi di sebuah air terjun. Air terjun kakek bodo namanya, air terjun ini berada di dekat pos pendakian tretes. Oh iya, kami turun melalui jalur yang sama dengan jalur ketika naik, kami juga sempat bermalam lagi di pos kopkopan sebelum menuju air terjun dan kembali ke pos pendakian tretes.

Thursday, January 5, 2012

Merapi




Akhirnya saya bisa melihat merapi dari dekat pasca erupsi tahun 2010 lalu, tidak tanggung-tanggung, 3 kali dalam 3 minggu, tepatnya tanggal 25 september, 2 oktober dan 8 oktober. Ada yang sedikit berubah dengan jalur yang ada. Jalur diladang penduduk jadi lebih terjal sekarang, jalur dari pasar bubrah untuk mencapai puncak apalagi, super terjal!! Harus merangkak perlahan untuk bisa mencapai puncak garuda yang sekarang hanya berupa igir-igir tipis yang langsung berhadapan dengan kaldera yang memiliki lobang besar disisi selatannya. Nampaknya itu merupakan jalur lahar ketika terjadi erupsi desember lalu.

Perjalanan diminggu kedua pada waktu itu merupakan perjalanan mendaki gunung ketiga saya dengan teman-teman di mcs --Saya sempat mendaki gunung ungaran juga gunung merbabu sewaktu liburan semester lalu dengan beberapa dari mereka--. Sebuah keluarga baru yang kembali mengajarkan saya tentang kebersamaan. Saya ingin bercerita banyak tentang keluarga baru ini sebenarnya, tapi lain kali saja, karena album ini adalah milik Merapi :)

Friday, September 2, 2011

Rinjani




Sebenernya ini jalan-jalan ke Lombok setahun yang lalu, tepatnya tanggal 8 sampai 11 September 2010, tapi di fotonya tertulis tahun 2008. Yogi lupa ngatur waktu di kamera waktu itu.

Kalau ditanya apa yang paling istimewa dari perjalanan ini, maka saya akan menjawab "SEMUANYA!!" :D

Saturday, April 30, 2011

Gunung Gede Pangrango




Berselancar sambil melihat-lihat foto adalah salah satu kegemaran saya. Beberapa foto mampu menimbulkan impresi begitu dalam sehingga membuncahkan hasrat untuk dapat berada disana. Foto alun-alun Suryakencana dari puncak gunung gede adalah salah satunya. Alun-alun Suryakencana, sebuah nama yang begitu pas dengan gambaran yang terlihat dalam foto yang saya lihat disalah satu blog yang ada di multiply saat itu. Sebuah lembah luas berwarna kuning keemasan dengan pinggiran berwarna putih yang tampaknya berasal dari gerombolan bunga Edel.

Tanggal 22 April 2011 akhirnya saya bisa kesana, berada diantara cantigi dan menyaksikan secara langsung lembah yang selama ini menghiasi angan saya. Sangat indah.

nb:
Foto-foto ini saya ambil dari halaman facebook teman saya Yogi, semua credit adalah untuk dia.. :)

Monday, December 6, 2010

Selamat Galungan

Waktu itu Sabtu, 2 Oktober 2010. Dengan pakaian kebesaran dan carrier di punggung saya celingukan di stasiun itu. Sungguh asing, itu merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di disana, stasiun Bekasi.

Hari ini, Selasa 7 Desember 2010, dua bulan lebih 5 hari sudah saya disini. Senang rasanya, akhirnya berada didunia kerja yang sesungguhnya. Banyak sekali pelajaran yang mustahil rasanya saya dapat ketika kuliah dulu.

Sepertinya bulan depan saya sudah akan beranjak, walau sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya pelajari disini. Semoga saja waktu yang tersisa bisa saya maksimalkan nanti. Paling tidak, isi kepala saya tidak terlalu kosong sekembali ke Jogja nanti. Tantangan dan kehidupan baru menanti disana, ingin rasanya merangkul dan mencium kedua orang tua saya untuk kesempatan kedua ini.

Subuh ini orang tua saya pasti sudah terbangun, hari ini hari penampahan, sehari sebelum hari raya Galungan. Biasanya saya membantu mereka mempersiapkan bumbu untuk memasak. Suasana penampahan selalu membayang, Bapak yang begitu sigap "nektek" bahan lawar, Mamak yang begitu setia "magorengan" didapur, Adik yang selalu datang ke dapur dengan tampang awut2an karena bangun kesiangan, juga senda gurau dan canda tawa bersama keluarga yang lain ketika membuat urutan dan membungkus tum di jineng.

Kalau sudah begini, saya jadi kangen rumah, ingin cepat pulang rasanya. Semoga saja awal tahun depan saya ada waktu luang..


Selamat Hari Raya Galungan.. :)

Sunday, September 5, 2010

Gunung Agung




Sampai saat ini Gunung Agung merupakan tempat paling menarik yang pernah saya kunjungi. Selain memiliki jalur yang beragam, gunung ini juga menawarkan pemandangan dan tantangan di atas rata-rata.

Semoga gambar-gambar ini bisa memberi sedikit gambaran tentang keindahan serta tantangan yang ditawarkan pendakian di tanah tertinggi di Pulau Bali ini.

Wednesday, September 1, 2010

Pura Gunung Salak, Puncak, Cibodas




Ini sedikit foto-foto liburan saya ke beberapa tempat di daerah Bogor. Menikmati rujak dan hening di Pura Gunung Salak, menikmati bukit-bukit hijau dengan suasana meneduhkan di Puncak dan perjalanan seorang diri ke Cibodas.

Cerita perjalanannya, ada di posting saya sebelumnya
http://lovelydayofmylife.multiply.com/journal/item/21/Catper_Pura_Gunung_Salak_Puncak_Cibodas

Tuesday, August 31, 2010

Catatan Perjalanan: Pura Gunung Salak, Puncak, Cibodas

Ini cerita perjalanan saya yang sudah cukup usang. Perjalanan ke beberapa tempat di daerah Bogor pada minggu ke empat bulan Juli, tepatnya Jumat 23 Juli sampai Rabu 28 Juli 2010. Banyak kesenangan saya temui, berbagai tempat dan pengalaman baru yang sedikit memperlebar tempurung yang menutupi tubuh katak ini.

Awalnya saya hendak melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango, berhubung teman yang hendak saya ajak berhalangan maka saya urungkan saja. Tapi saya tetap harus berlibur keluar kota, sungguh penat terkungkung di Jogja dalam waktu cukup lama dengan beban skripsi yang sungguh menyita waktu, pikiran dan tenaga. Tapi semua sudah berakhir sekarang, saatnya memanjakan diri, mari berlibur! Teman saya menawarkan beberapa lokasi, saya kontak beberapa teman yang lain untuk bergabung, gayung bersambut sayapun berangkat.

Serpong, Pura Gunung Salak, Puncak

Saya berangkat dari Stasiun Lempuyangan Jogja, turun di stasiun Tanah Abang, berganti kereta menuju Serpong lalu dijemput teman yang tinggal didaerah Pasar Prumpung Bogor. Pengalaman pertama menumpang kereta ekonomi dalam jarak yang cukup jauh, melelahkan tapi menyenangkan juga. Memperhatikan para pedagang asong berseliweran sementara saya duduk beralaskan koran di lantai kereta.

Hari pertama saya bermalam di Serpong, kontrakan teman saya, Ngarayana yang bekerja di Batan. Hari itu belum sempat kemana-mana hanya bertemu seorang teman di wilayah BSD.

Pura Gunung Salak merupakan destinasi pertama saya. Terletak di kaki Gunung Salak, pura ini memiliki areal yang cukup luas dengan pemandangan bentang alam pegunungan. Ada lanskap hijau kota Bogor, ladang, lembah serta latar belakang gunung Salak yang menjulang tinggi dibelakang Pura. Saya berangkat bersama Ngarayana, Purna dan Banteng, teman-teman saya sejak SMA yang sekarang bekerja di sekitaran Jakarta dan Tanggerang. Perbekalan kami cukup banyak, berbagai jenis buah untuk membuat rujak. Kebetulan disana juga bertemu dengan paman salah satu teman saya, kami diberi tambahan buah dan beberapa bungkus lontong, tambah lengkap menu makan siang kami sebelum melakukan persembahyangan di areal utama Pura.

Tujuan berikutnya adalah Puncak Bogor. Salah satu teman saya, Purna tidak ikut karena ada urusan ke Bandung. Dia turun di Terminal Baranang Siang untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung. Di Puncak kami bermalam di sebuah asrama, Ngarayana sering berkunjung kesana untuk memperdalam pengetahuan rohaninya.

Jalan-jalan dua hari ini diakhiri dengan berburu udara segar di kebun teh Puncak. Berita tentang kemacetan yang terjadi di wilayah puncak pada akhir pekan maupun hari-hari libur membuat saya sedikit penasaran akan betapa spesialnya tempat itu. Tapi apa yang saya jumpai sesampai disana?? Bukit-bukit hijau, udara dingin, suasana meneduhkan dan terakhir macet. Ekspektasi besar saya tidak terjawab!. Saya sempat jalan-jalan ke kebun teh di wilayah Karanganyar dan Wonosobo sebelumnya dan tidak ada kemacetan sama sekali disana. Suasana yang ditawarkan ketiga tempat tersebut kurang lebih sama. Analisa saya, sepertinya penyebab utama kemacetan lebih ke faktor eksternal, yaitu lokasi, bukan sesuatu sangat spesial yang ditawarkan oleh Puncak. Kebun teh Puncak berada dekat dengan kota Jakarta dan Bogor dimana jumlah penduduk jauh lebih padat, sepertinya ruang hijau sebagai tempat rekreasi keluargapun tidak banyak dikedua kota ini, maka wajar saja jika banyak dari mereka pergi ke puncak pada hari-hari libur dan ikut menjadi penyumbang kemacetan.

Hari berikut merupakan perjalanan seorang diri, teman-teman saya sudah mulai masuk kerja. Saya hendak pergi ke Cibodas, sekedar untuk sampai di pos pendakian gunung Gede Pangrango dan bermalam di basecamp pendakian.


Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Perjalanan dimulai dari Grogol, saya berangkat diantar Banteng sampai stasiun Kota. Sedikit terkaget ketika membeli tiket ke Bogor yang hanya 1500 rupiah. Untuk sampai Cibodas, dari stasiun Bogor naik angkot nomer 3 menuju terminal Baranang Siang lalu lanjut dengan colt putih yang ngetem di dekat tol. Salanjutnya turun di pertigaan Cibodas di wilayah Cipanas. Dari sana perlu 4KM lagi untuk sampai Cibodas.

Saya berjalan kaki untuk sampai Cibodas. Sebenarnya ada angkot untuk sampai disana, tapi saya memilih berjalan kaki saja, itung-itung untuk menghilangkan rasa gatal karena gagal mendaki Gunung Gede Pangrango.

Akhirnya sampai di Kebun Raya Cibodas. Tidak banyak informasi yang saya ketahui tentang kebun raya ini. Diluar tampak sepi, kemudian saya bertanya tentang kebun raya Cibodas pada bapak penjaga loket. Mendapat penjelasan yang cukup, sayapun minta ijin untuk masuk. Bapak itu mempersilahkan tanpa mengharuskan saya untuk membeli tiket. Baik sekali bapak ini. Hehe.

Saya teringat Kebun Raya Bedugul ketika memasuki areal kebun raya Cibodas, terdapat hamparan hijau rerumputan dengan berbagai jenis pepohonan. Lokasi pertama yang saya jumpai adalah Sakura Garden, sayang sedang tidak berbunga. Ada sungai kecil yang membelah kebun dan air terjun kecil dibagian hulu kebun, kalau tidak salah air terjun Cibogo namanya.

Lokasi berikutnya air terjun yang agak besar, Ciismun. Lokasinya cukup jauh dari Sakura Garden, kira-kira butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di tempat itu dengan berjalan kaki. Air terjunnya tidak sebesar bayangan saya, hanya sedikit lebih tinggi dari air terjun Cibogo. Saya bertemu banyak orang Arab disana.

Berikutnya adalah tujuan utama, pos pendakian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang terletak tidak jauh dari loket masuk Kebun Raya Cibodas. Ada tulisan besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di atas pintu masuk. Saya jadi teringat foto beberapa teman yang pernah berpose disini lengkap dengan carrier dipunggung mereka. Sayang waktu itu saya tidak membawa carrier, suatu saat saya juga pasti akan kembali dan berpose dengan carrier dipunggung. He.

Pos pendaftaran ini menjadi sangat mewah jika dibandingkan dengan beberapa pos lain yang pernah saya kunjungi. Bangunan luas, bertingkat dan lantai keramik. Sangat jauh jika dibandingkan dengan yang biasa saya temui, sebuah ruang sempit berlantaikan semen. Departemen Kehutanan sepertinya benar-benar mengelola taman nasional ini dengan baik, ditambah lagi dengan adanya situs gedepangrango.org yang benar-benar dapat diandalkan sebagai sumber informasi. Saya mengobrol sebentar dengan petugas disana lalu pamit untuk menuju lokasi basecampdisana diistilahkan Shelter pendakian.

Shelter berada tidak jauh dari pos pendaftaran mendaki. Berada ditengah hutan, terdapat beberapa bangunan disana, salah satunya adalah rumah panggung tempat dimana saya bermalam nantinya. Saya bertemu dengan beberapa anak Montana disana, mereka adalah para volunteer yang selalu siap sedia menjaga taman nasional ini. Salah satu tugas mereka adalah mengecek barang bawaan setiap pendaki yang akan naik maupun turun gunung. Merekapun bisa menjelma menjadi regu SAR ketika ada kecelakaan dalam pendakian. Belakangan saya baru tahu ternyata mereka melakukannya dengan sukarela, tidak dibayar. wow. Sayang saya tidak sempat mengobrol banyak waktu itu, hanya sempat sesekali menimpali obrolan mereka. Rasa kantuk sungguh membuyarkan konsentrasi, sampai-sampai saya sempat tertidur di ruang tengah sebelum mereka membangunkan dan mempersilahkan saya untuk makan. Sungkan juga sebenarnya, orang asing, tidak membantu memasak, langsung makan. Ah, nanti saya yang cuci piring pikir saya. Tapi apa yang terjadi, mereka langsung mencuci piring masing-masing sehabis makan, beruntung masih ada batu pengulekan di tempat cuci piring, niat membantu saya jadi sedikit terpenuhi. He. Kantuk datang kembali, mereka mempersilahkan saya untuk tidur di kamar dan menggunakan selimut yang ada, sementara beberapa dari mereka sepertinya harus menahan dingin diruang tengah. Baik sekali mereka, memperlakukan orang asing dengan begitu ramah dan bersahabat. Terimakasih saya untuk anak-anak Montana, semoga saja saya berkesempatan untuk berkunjung kesana lagi nanti.


Kembali ke Jakarta

Subuh saya pamit untuk kembali ke Jakarta. Dengan transportasi yang sama seperti ketika berangkat. Colt putih dari Cipanas sampai di terminal Baranang Siang. Sebenarnya saya hendak ke Kebun Raya Bogor, tapi apa daya hujan begitu lebat ketika saya sampai di loket tiket. Saya urungkan saja dan melanjutkan perjalanan, naik angkot dari halte yang ada didekat loket sampai di Stasiun Bogor lalu menumpang kereta sampai di Stasiun Kota.

Dari Stasiun Kota saya melanjutkan perjalanan dengan Trans Jakarta untuk sampai tempat kos teman saya di Grogol. Walau sempat beberapa kali nyasar, akhirnya sampai juga.

Malam hari saya mesti balik ke Serpong, ke tempat Ngarayana. Barang-barang saya masih disana dan esok hari saya sudah harus balik ke Jogja. Banteng mengantar sampai Stasiun Tanah Abang, lalu saya menumpang kereta menuju stasiun Serpong sebelum lanjut menumpang bus sampai Pasar Prumpung. Dari sana perlu berjalan beberapa menit untuk sampai di kontrakan teman. Sungguh lelah, saya langsung tidur.


Yogyakarta: Pulang Kekotamu

Kereta ke Jogja yang hendak saya tumpangi berangkat malam pukul 19.30 dari Stasiun Tanah Abang. Pagi dan siang harinya saya habiskan dengan bermain di wilayah Puspiptek dan BSD.

Malam tiba, Ngara mengantar saya sampai Stasiun Serpong, saya naik KRL menuju Tanah Abang, membeli tiket ke Jogja lalu berangkat.

Beruntung saya mendapat tiket duduk kali ini, diantara mereka para kelas pekerja yang tampak selalu ceria. Tawa renyah dan obrolan ringan mereka menjadi pengantar tidur saya malam itu ditengah suara gesekan roda kereta dengan rel. Menderu memang tapi sangat hangat. Sesekali juga terdengar nyanyian para musisi jalanan dan sayup suara pedagang asong yang sedang menawarkan dagangan mereka. Saya jadi lupa kalau sedang berada di sebuah kereta ekonomi yang begitu tidak diminati sebagian orang karena segala ketidaknyamanannya. Saya merasakan nyaman dan hangat ekstra tinggi waktu itu, sesuatu yang selalu saya rasakan ketika berada dirumah. Sudah lama sekali rasanya, jadi semakin rindu rumah, untung sebentar lagi saya akan pulang.. :)


Perjalanan ini sungguh menyenangkan. Mengajarkan berbagai pengalaman dan memberi banyak wawasan baru bagi saya. Berbagai keterkesanan yang muncul rasanya mampu sedikit mengatasi demotivasi yang belakangan selalu menemani sebagai akibat rasa jenuh mengerjakan TA. Bisa jadi tulisan ini adalah salah satu buktinya. He. Masih ada cerita lanjutan mengenai liburan saya di Bali, semoga bisa saya selesaikan segera. :)

Foto-foto perjalanan ini saya posting disini.

Thursday, February 11, 2010

WSTCC @ Auditorium LIP Yogyakarta




Ini merupakan foto-foto lama yang kebetulan saya ketemukan di media penyimpanan saya. Pertunjukan musik dalam rangka launching single "Senja Menggila" dari White Shoes & The Couples Company ini dilangsungkan di Auditorium LIP Yogyakarta pada 29 Juni 2009.

Gambar-gambar ini diambil menggunakan kamera range finder Ricoh 500GX kepunyaan teman saya. Mengingat kenyataan ini merupakan kali pertama saya mencoba kamera tersebut ditambah exposure meter yang sudah tidak berfungsi, maka harap maklum kalau hasilnya jadi kurang sedap dipandang mata :)

Sunday, January 17, 2010

Puzzle Kehidupan: Penerimaan

Jika kehidupan ini diumpamakan sebagai sebuah puzzle, entah berapa banyak cerita yang akan terangkai didalamnya. Tentu akan banyak potongan cerita yang nantinya membentuk suatu cerita baru. Sangat banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Pasti akan selalu ada sisi siang, sisi malam, sisi menyenangkan pun tidak menyenangkan. Tapi cerita apapun itu, asalkan tampak jelas tentu akan lebih dapat dinikmati.

Suatu cerita buram, samar, tidak tertata rapi akan selalu membebani kepala, menimbulkan berbagai pertanyaan akan maksud dari cerita tersebut.

Entah benar pernyataan umum yang menyatakan bahwa semua sudah dituliskan Sang Pencipta, namun ketika sebuah penerimaan mampu menghapus segala gundah gulana, mengapa mesti diperdebatkan?

Sunday, January 10, 2010

Piknik Tahun Baru (Dedikasi untuk Wa2n)




Sangat banyak cara untuk merayakan malam pergantian tahun. Saya, bersama teman-teman di kos Bali Kulkul melewatinya dengan memasak. Tidak untuk santap malam itu memang, tapi untuk piknik keesokan harinya. Piknik sambil mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang sekiranya merupakan peninggalan para leluhur kita. Tempat pemujaan berupa candi, yang dibangun berabad-abad yang silam.

Mungkin piknik ini tidak akan pernah terjadi jika saja di Kos kami tidak ada seorang sahabat bernama Wawan. Sosok pria bersahaja yang sangat dekat dengan rumah-rumah Tuhan. Sekiranya kegiatan mengunjungi candi merupakan salah satu kegiatan rutinnya. Belum lama memang dia kos di Bali kulkul, tapi antusiasme meluap yang dipancarkannya sangat mampu menggiring kami untuk beberapakali bangun subuh guna kemudian berangkat berkunjung ke Candi-candi.

Kini dia telah pergi, untuk memulai kehidupan baru di tanah kelahiran. Tentu banyak cerita yang ingin dirangkai disana. Semoga semua angan dan citamu menjadi nyata kawan.

Hampir 7 tahun kami bersama-sama mencoba merajut mimpi di Jogja. Tidak banyak memang waktu yang kami habiskan bersama. Tapi saya sangat sadar betapa setiap detik yang kami lewati bersama merupakan momen-momen pembelajaran yang akan selalu membekas sampai kapanpun.

Terimakasih untuk selalu mengajarkan "Temukan jati dirimu".
"Jangan pernah terombang-ambing akan keadaan sekitar, hal-hal yang membuatmu merasa damai itulah yang yang seharusnya kamu lakukan". "Setiap orang pasti dibentuk dengan kejadian-kejadian berbeda sehingga sangat tidak mungkin memaksakan damai yang orang lain rasakan pada diri kita".

Mungkin tidak akan pernah ada lagi perjalanan tak terduga ke tempat-tempat tak terduga seperti ini di kos Bali Kulkul nantinya. Cepat kembali teman, dengan cerita baru yang mengernyitkan senyummu, cerita tentang anganmu yang menjadi nyata, cerita tentang betapa Tuhan akan selalu ada untuk kita ketika kita selalu dekat denganNya..

Kami akan sangat merindukanmu, kawan..

Saturday, December 12, 2009

Lebaran @ Gunung Lawu




Saya sering mendengar cerita tentang gunung ini. Mulai dari keindahan panorama alamnya, kehadiran burung jalak ketika melakukan pendakian, hingga berbagai peninggalan zaman kerajaan Majapahit yang bertebaran disekitar gunung.

Argo Dumilah, untuk saat ini merupakan tempat tertinggi yang pernah saya pijak. Berada di ketinggian 3265 Mdpl tempat ini tentu memiliki suhu dibawah rata-rata. Sejak awal saya sudah membayangkan betapa dingin udara di tempat kami akan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Dan benar saja, udara dingin serasa menusuk-nusuk kulit. Beruntung ada semacam goa yang bisa digunakan sebagai tempat mendirikan tenda. Dingin sedikit teredam oleh bebatuan yang mengitari tenda kami.

Cerita tentang keindahan alam lawu ternyata bukan hanya isapan jempol. Jumputan Bunga Abadi (Edelweis) sepanjang perjalanan, kerlap-kerlip lampu dan bias cahaya air Telaga Sarangan tampak indah dari sini. Lereng-lereng yang terlihat menghujam awan juga bukit-bukit yang diselimuti awan membawa sensasi tersendiri (merasanya sedang berada di sebuah tempat di atas awan). Menyaksikan perubahan warna cakrawala dari ketinggian ketika sunset dan sunrise pasti dan akan selalu menjadi momen indah. Keberadaan beberapa bangunan di sekitar puncak juga menambah keterkesanan saya, betapa gigih usaha yang mereka lakukan untuk mengenang dan memberi penghormatan pada para leluhur Nusantara.

Ada satu lagi cerita menarik yang terjadi ketika kami hendak melakukan perjalanan pulang dari Cemoro Sewu.

Waktu itu, kami baru turun dari puncak dan hendak melakukan perjalanan pulang. Apa daya, ternyata ban motor saya pecah. Hari itu merupakan lebaran hari pertama. Pasti sangat sulit untuk mencari tukang tambal pikir saya.

Sungguh beruntung ternyata tidak jauh dari basecamp ada tukang tambal ban yang buka. Ternyata ban motor saya sobek di dua tempat. Awalnya saya berpikir pasti harga menambal ditempat itu akan sangat mahal. Tempat terpencil, cukup jauh dari peradaban ditambah lagi suasana hari raya. Sangat wajar jika tukang tambal itu mematok harga tinggi.

Tapi apa yang terjadi, ketika saya menanyakan ongkos tambal untuk dua sobekan tadi, Mas itu menjawab 7000 rupiah, kemudian saya menanyakan kembali:

"sudah semuanya Mas..??"
Dia menjawab "Iya".

Aih, berarti ongkos menambal untuk satu sobekan hanya 3500.

Saya tersentak dibuatnya. Ternyata masih ada orang polos seperti itu di negara ini. Entah prinsip apa yang dipegangnya, sehingga paham oportunisme tidak diberlakukan pada kesempatan ini. Andai saja sikap para pemimpin negeri ini bisa seperti itu. Tentu kasus-kasus korupsi yang mengatasnamakan kesempatan dan kekuasaan tidak akan menjadi topik utama media cetak dan televisi di negara tercinta ini.

Salam hormat untukmu, tukang tambal ban. Berkat kamu, saya tidak perlu mendorong motor terlalu jauh. Berikut sedikit foto perjalanan kami.

nb: Seperti biasa, foto oleh Dwi, beberapa diantaranya oleh Karung

Monday, November 9, 2009

Keluarga Bali KulKul @ Ungaran




Gunung Ungaran selalu berkesan dihati. Ditambah lagi perjalanan penuh canda bersama sahabat. Menimbulkan sensasi rumah yang sangat kental. Sungguh beruntung diujung waktu berada di Jogja saya berkesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga besar ini. Berkumpul bersama sosok-sosok bijak penuh semangat yang selalu bersahabat. Ini adalah cerita perjalanan pertama saya bersama keluarga ini. Sebuah piknik idaman. Saya tidak akan bercerita lebih lanjut, sekiranya beberapa gambar ini mampu bercerita lebih banyak tentang betapa hari yang kami lewati disana sungguh menyenangkan.

Nb: Foto by Dwi & Karung

Tuesday, October 6, 2009

17 Agustus di Merapi




Ini adalah pendakian kedua saya di Gunung Merapi. Kali ini bertepatan dengan peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke 64 tahun. Saya bersama dua orang teman, dua wanita tangguh yang sunguh gemar menapakkan kaki di batas-batas tertinggi daratan. Saya sungguh mengagumi mereka, semoga saja saya cukup beruntung untuk diberi kesempatan melakukan perjalanan menapakkan kaki di batas tertinggi daratan sesering yang telah mereka lakukan.

Saya berangkat dari Jogja. Jika pada pendakian sebelumnya mengendarai sepeda motor, kali ini menumpang bus. Pengalaman baru yang selalu membuat tersenyum. Kami menumpang bus dari Janti. Untuk mencapai Basecamp New Selo, kami melakukan pergantian angkutan sebanyak 3 kali. Pertama mengganti bus di terminal Kartosuro, kemudian kembali berganti bus di pertigaan di wilayah Boyolali. Kemudian pindah memakai mini bus di sebuah pasar di daerah Boyolali. Mini bus ini mengantarkan sampai di pertigaan yang merupakan persimpangan terdekat antara jalan raya dengan basecamp New Selo. Sekiranya kami akan berjalan kaki menuju basecamp, beruntung ada rombongan dari Jakarta yang menawarkan untuk ikut menumpang carry yang mereka tumpangi. Perjalanan menanjak berjalan kaki yang seharusnya ditempuh selama 15 menit berhasil dicapai dalam waktu tidak sampai 5 menit.

Sebelumnya saya sudah mendengar cerita kalau 17 Agustus merupakan salah satu momen pendakian yang digemari banyak orang. Dan benar saja, sesampai di basecamp puluhan orang terlihat telah bersiap melakukan pendakian. Kami melakukan pendakian siang hari, kalau tidak salah pukul 2 siang. Saya sangat menikmati pendakian, santai dan berjumpa banyak orang penuh semangat yang selalu menyapa dengan senyum mengembang.

Kami sampai di Pasar Bubrah kalau tidak salah pukul 7.30 malam. Suhu disana sungguh berbeda dengan bukit terakhir yang kami lewati, cukup hangat. Lampu-lampu tampak berserakan menghiasi ratusan tenda yang terpasang di areal itu. Saya terkaget menyaksikan suasana disana, sungguh semarak. Tidak pernah terbayang sebelumnya bakal ada dentuman musik Metallica di tempat itu, sangat kencang. Mereka pasti gerombolan metalhead sejati yang tak rela melewatkan waktu tanpa teriakan James Hetfield pun sayatan gitar Kirk Hammet yang sungguh memecah kesunyian dimalam itu. Malam itu saya berkenalan dengan 3 teman baru yang berasal dari daerah Kendal yang salah satunya merupakan temannya teman perjalanan saya.

Pagi hari saya berniat menggapai puncak, dua teman saya tidak ikut, mereka lebih memilih menyusuri Pasar Bubrah. Saya berangkat bersama 3 teman baru yang saya kenal semalam. Kami melewati jalur yang sangat curam. Saya tidak lewat jalur itu sewaktu pertama kali muncak. Jalur ini sangat terjal, ada beberapa bagian yang mengharuskan kami untuk memanjat seperti ketika sedang memanjat papan panjat. Belum sampai puncak, sunrise tampaknya segera muncul, kami berhenti sejenak untuk mengabadikan gambar kemudian melanjutkan pendakian.

Sesuai perkiraan, kawasan puncak penuh sesak, bahkan untuk menyentuh Puncak Garuda mesti antri dan antriannya cukup panjang. Niat saya untuk berfoto disana seketika hilang, toh saya sudah mengabadikan gambar di Puncak Garuda pada pendakian sebelumnya pikir saya. Tidak kalah dengan peringatan proklamasi di kota, disini juga banyak berkibar bendera merah putih, atribut wajib peringatan hari proklamasi. Sesaat ketika kami akan turun, saya terkaget karena bertemu teman kos saya yang sebelumnya berencana untuk 17an di Ungaran. Karung, Si tenaga kuda yang tak kenal lelah. Dia berangkat sendiri, dari Jogja jam 11, sampai di New Selo jam 1.30, langsung naik dan tiba di pasar bubrah pukul 4.30, Menggila!

Sesaat bercengkrama, kami berempat kemudian turun, kali ini tidak melewati jalan terjal yang tadi. Kami melewati lereng yang lebih landai namun cukup rawan karena track berupa bebatuan yang sangat mudah tergelincir jika kita salah berpijak. Cukup sering batu-batu sebesar genggaman tangan menggelinding dari atas yang memancing riuh pendaki berteriak awas, untuk memperingatkan mereka yang berada dibawah.

Kami tiba di Pasar Bubrah dengan selamat. Sangat lapar, kemudian memasak mie instan sambil menghabiskan bekal makanan yang tersisa. Kenyang, kemudian membongkar tenda dan siap untuk perjalanan turun. Teman kos saya, Karung, berangkat duluan, sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu sang kekasih hati. Rombongan turun gunung kami menjadi 6 orang. Saya masih ingat betapa berdebu dan licinnya track turun pada pendakian sebelumnya. Kali ini jauh lebih parah. Banyak orang gila yang menyeret botol-botol yang mereka kumpulkan untuk dibawa turun. Bayangkan, track berdebu, ditambah seretan rangkaian botol yang bisa mencapai 1 meter, hasilnya, tentu saja debu-debu beterbangan tak terkendali. Sangat mengganggu. Beruntung saya bertemu kembali dengan para metalhead sejati dengan pakaian hitam-hitam yang masih tetap setia dengan musik metal yang berdentum keras dari tape deck yang mereka panggul. Sungguh menghibur dan mengobarkan kembali semangat yang sempat redup.

Kira-kira 4 jam perjalanan kami tiba di basecamp New Selo. Sesaat beristirahat dan membersihkan badan kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja. Dari daerah Selo menumpang bus, kemudian berganti bus di terminal di wilayah Boyolali lalu turun di wilayah Kartosuro. Kami mampir untuk makan di sebuah warung soto di dekat lampu merah Pasar Kartosuro. Maknyus dan murah meriah. Pantas saja teman saya memaksa untuk tetap makan disana walaupun diterik siang kami mesti berjalan sekitar 500m untuk mencari tempat itu. Sangat layak untuk dicoba. Kenyang menyantap soto, kami melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan menumpang bus.

Kira-kira 1,5 jam perjalanan, kami tiba di Janti. Masih sekitar pukul 6 sore, saya dan dua teman berpisah disini. Mereka mengendarai motor yang mereka titipkan pada saat berangkat dan saya menumpang bus kopata. Kembali, ini adalah pengalaman baru, setelah 6 tahun menetap di Jogja baru kali ini saya menumpang bus kopata untuk transportasi dalam kota. Sedikit menggelitik, berada didalam bus yang sering kita umpat karena melaju ugal-ugalan sambil menyaksikan beberapa pengendara sepeda motor yang menggerutu dan menatap marah ke arah bus yang kita tumpangi.

Saya sampai dirumah dengan selamat. Sangat lelah namun sungguh berkesan.

nb: Foto-foto diambil dari kamera Karung & Mba Umay

Tuesday, June 23, 2009

Kebetulan bernama Sinkronisitas

Saya baru saja menemukan kosakata baru setelah membaca tulisan The "KK" Synchronicity milik Dewi Lestari. Tulisan mengenai berbagai kebetulan bernama Synchronicity/Sinkronisitas yang dipercaya sebagai cara semesta menyampaikan pesan untuk umatnya. Sebagian orang juga menyatakan bahwa Sinkronisitas merupakan pertanda kalau kita sedang berada dijalan yang benar. Sepertinya saya mengalami kebetulan seperti itu beberapa waktu yang lalu, begini ceritanya:

Suatu ketika saya memberi komentar pada posting
salah satu contact Facebook saya. Iseng saya memperhatikan kembali komentar itu dan ternyata tercatat pada tanggal 5 Juni pukul 5:55.

Beberapa hari kemudian, dalam perjalanan pulang dari daerah Jakal, didepan sebuah SPBU tiba-tiba saya menoleh kekiri dan menemukan tulisan SPBU. 44. 555.05 terpampang besar ditembok. Dua rangkaian 555 tanpa makna yang membuat saya teringat akan sinkronisitas.

Kemudian ketika saya membaca tulisan ini. Kembali rangkaian 555 muncul, kali ini lengkap dengan artinya menurut "angel number". Begini katanya:
Major changes and significant transformations are here for you. You have an opportunity to break out the chrysalis and uncover the amazing life you truly deserve
Cukup menarik..

Karena masih sangat asing dengan idiom "angel number", saya lalu melakukan pencarian dengan Google dan menemukan kutipan lain:
Buckle your seatbelts. A major life change is upon you. This change should not be viewed as being “positive” or “negative” since all change is but a natural part of life’s flow. Perhaps this change is an answer to your prayers, so continuing seeing and feeling yourself to be at peace.
Angel number,
555=akan terjadi perubahan besar dalam kehidupan anda.. Sangat menarik.. :)

Saya jadi mereka-reka "apa semesta sedang mencoba menyampaikan sesuatu melalui kebetulan-kebetulan ini..??" atau semua cuma kebetulan tanpa makna belaka..??

Ah, entahlah.. Paling tidak dari kebetulan-kebetulan ini saya jadi tau ternyata ada istilah sinkronisitas dan angel number di semesta raya ini.. :D

Salam untuk Sang Hakim

Setiap saat menghakimi padahal bukan hakim
Mempertontonkan aksi namun tidak untuk menghibur
Mengintervensi sampai mati

Senyum mengembang tanda menerima
Terus berjalan dan memberi salam

Hormat padamu, Sang Hakim.

Tuesday, June 2, 2009

Gunung Ungaran




Sejenak melambatkan nafas sambil mengamati pikiran untuk kemudian menceburkan diri lepaskan angan. Hanya ada senyum, bahagia, suka dan suka..

Ini merupakan perjalanan menyusuri entitas alam yang sungguh menawan. Berbagai keindahan terekam jelas dibenak. Julangan hutan pinus, luapan mata air yang siap diminum, sungai kecil yang membelah hutan, kolam mandi ditengah hutan yang cukup terawat, hamparan hijau perkebunan kopi & teh, barak para pemetik teh (Peromasan) dengan penghuni yang sangat ramah, sewa menginap semalam hanya 1000 rupiah, harga sekali makan hanya 3000 rupiah, pancuran tempat mandi sekaligus berendam yang sungguh menyegarkan, puncak gunung dengan pemandangan Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro & Sumbing.
Belum pernah saya menyusuri tempat seindah ini. Impresi yang terbangun terlalu dalam, pasti tidak akan mudah untuk melupakan pengalaman ini...

Hasrat untuk kembali kesana sungguh besar, semoga dalam waktu dekat saya sudah bisa menikmati pengalaman ini lagi. Sungguh menyenangkan...

Monday, May 18, 2009

Mendefinisikan Percaya

Tatkala itu, saya sedang berkemah di suatu kawasan perkemahan, sebuah tempat representatif untuk melepas lelah. Ada udara dingin, pepohonan yang sangat rindang, kicau burung dan gemericik aliran sungai yang membelah kesunyian malam. Waktu itu, kebimbangan sedang berkecamuk di dada. Namun percakapan singkat dengan seorang sahabat sungguh mujarab guna mengembangkan kembali senyum dipagi nan indah itu.

"Keyakinan". Sebuah kata yang menjadi santapan wajib para pelajar didaerah saya ketika mendapat pelajaran Agama Hindu. Pelajaran tersebut terangkum dalam Panca Sradha, lima macam keyakinan yang menjadi landasan bagi mereka yang beragama Hindu. Keyakinan terhadap Tuhan, Keyakinan terhadap Atman, Keyakinan terhadap Hukum Karmaphala, Keyakinan terhadap Reinkarnasi dan Keyakinan terhadap Moksa. Konsep yang sampai kini masih tetap saya yakini kendatipun hanya salah satu saja yang benar-benar saya ketahui. (yakin belum tentu tahu, saat kita mengatakan "yakin akan adanya Tuhan", bukan berarti kita sudah tahu (melihat) keberadaannya. Namun saat kita mengatakan "tahu matahari terbit di timur", dikarenakan kita sudah melihat pemunculannya dari ufuk timur).

Pagi itu, diatas gelondong kayu yang melintang di badan sungai, saya sedikit bercerita tentang kebimbangan yang berkecamuk di dada. "Percaya" menjadi salah satu topik percakapan dipagi itu, sebuah kata yang memiliki kedekatan arti dengan "Yakin". Berikut beberapa definisi kata "percaya" yang ada pada KBBI Daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan) :
    1. sebuah anggapan bahwa sesuatu itu memang benar-benar ada
    2. menganggap atau yakin bahwa sesuatu itu benar-benar ada
    3. menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur (tidak jahat dsb)
    4. yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb).

Kata "percaya" yang kami cakapkan waktu itu berada dalam konteks "mempercayai seseorang". Sekiranya definisi
nomer 4 dan 5 paling tepat untuk mewakili kata tersebut.
Menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur; yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb)
Keadaan sangat ideal yang mungkin sebatas definisi semata. Semoga saja suatu saat nanti, saya cukup beruntung untuk bisa mengetahui kalau memang benar ada sosok orang seperti itu.

Friday, January 16, 2009

Efek Rumah Kaca @ Liquid Jogja

Start:     Jan 22, '09 10:00p
Location:     Liquid Jogja